Archive

Archive for the ‘Tips Karier’ Category

Terlalu Pandai Bukan Selalu Tindakan Yang Cerdas

June 18th, 2008

“Apakah semua organisasi menginginkan karyawannya Pandai?
Perusahaan tidak menginginkan anda bertindak menunjukkan kepandaian anda, sebelum anda menunjukkan rasa hormat dan menghargai kepada atasan anda”.
Banyak karyawan berfikir, bahwa kalau mereka pintar dalam segala hal dengan menunjukkan semua kepiawaiannya, maka mereka akan dapatkan semua kenikmatan dari karirnya. Namun karyawan seringkali lupa dengan “kesantunan” dalam menyampaikan kepandaiannya. Tidak jarang mereka mempermalukan atasan didalam rapat, menanyakan sesuatu dengan tujuan menguji atasan, menanggapi kebijakan atasan dengan ungkapan-ungkapan “negatif”. Pahamilah, bahwa sebenarnya atasan andalah yang akan mengantarkan anda ke jenjang karir yang lebih tinggi. Kepandaian, keahlian, ketrampilan anda seharusnya anda gunakan untuk mendukung upaya atasan anda dalam mengembangkan unit kerjanya, bukan ambisi pribadi anda.

Bagaimana cara yang baik untuk menunjukkan kepandaian anda?

1. Beri pendapat jika hanya diminta oleh atasan. Jika anda berinisiatif hendak memberikan saran, maka pastikan bahwa atasan mengijinkan anda untuk hal itu.
2. Jangan pernah mengungkit-ungkit apa yang pernah gagal dijalankan oleh atasan, dengan menunjukkan kepandaian anda seandainya anda yang menanganinya saat itu. Jika diminta, beri solusi positif yang mendukung atasan anda untuk memperbaiki kegagalannya.
3. Jika usulan atau saran anda ditolak atau tidak diperhatikan oleh atasan, maka jangan “Caper” (Cari perhatian) dengan selalu bertanya-tanya kepada atasan, mengenai eksekusi dari usulan/saran anda
4. Pastikan bahwa anda selalu menunjukkan kesantunan, apresiasi dan penghormatan terhadap upaya yang telah dilakukan atasan.
5. Tiap usulan anda yang diajukan dalam suatu tim atau unit kerja, maka anda harus menyadari bahwa usulan itu harus ditujukan untuk memperbaiki kerja tim, dan bukan untuk mengangkat nama pribadi anda. Biarkan atasan mendapatkan pujian atas hal itu. Jika itu terjadi, maka atasan anda akan merasa “berhutang ide” kepada anda. Dan, keadaan ini tentunya dapat menguntungkan anda.

Jika atasan anda merasa nyaman dengan anda dan meyakini bahwa anda bisa dipercaya, maka atasan akan tidak kikuk untuk meminta pendapat anda. Nah ini kesempatan yang baik bagi anda untuk menunjukkan kepandaian anda……., dengan santun.

tjahjani Prawitowati

Tips Karier

Sukses di Kantor Baru

June 11th, 2008

Hari pertama bekerja sudah di depan mata.Umumnya, perasaan gugup datang karena memikirkan apa yang akan dialami di kantor baru nanti. Persiapan memang perlu, tapi yang juga penting adalah performa Anda di sana. Agar proses adaptasi berjalan sukses, langkah-langkah berikut ini bisa dipraktikkan.

1. Berikan Kesan yang Baik dan Bersikaplah Ramah
Jika atasan tak punya waktu untuk memperkenalkan Anda pada orang-orang di kantor, Anda bisa melakukannya sendiri. Lakukan tanpa berlebihan. Jabat tangan mereka dengan hangat dan sebutkan nama Anda, sambil tersenyum.

2. Jangan Bergosip
Kalau rekan kerja Anda mulai bergosip tentang atasan Anda atau orang yang Anda gantikan posisinya, abaikan saja. Balas obrolannya dengan senyum, jangan bertanya lebih lanjut meski Anda sangat penasaran dengan kelanjutan ceritanya. Selain tidak etis, Anda sendiri belum tahu “peta” hubungan antar rekan kerja di kantor baru.

3. Semangat
Kerjakan semua tugas dengan baik dan semangat tinggi. Selebihnya, biarkan atasan Anda menilai. Kalaupun kinerja Anda membuat keuntungan perusahaan meningkat, tak perlu mengatakan hal itu pada atasan untuk mendapatkan kenaikan gaji.

4. Sedikit Bicara Banyak Bekerja
Jangan sungkan bertanya kalau memang tak tahu. Kalau rekan kerja berinisiatif membantu ketika Anda mengalami kesulitan mengerjakan hal-hal baru, tak ada salahnya diterima. Selain bisa memakan waktu lebih lama dari seharusnya, menolak bantuan akan membuat mereka menduga Anda tak suka bekerjasama sebagai bagian dari tim.

5. Jangan Membandingkan
Meski Anda tidak cocok dengan cara kerja kantor baru Anda yang lebih lambat dari kantor lama, simpan saja perasaan itu dalam hati. Membanding-bandingkan kantor lama dengan tempat Anda bekerja sekarang akan membuat sebal rekan-rekan di kantor baru. Mereka akan heran mengapa Anda memilih pindah kerja, kalau di kantor lama terlihat lebih baik dalam berbagai hal.

6. Koordinasi
Kalau Anda punya bawahan di kantor baru, segera koordinasikan hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan. Cari cara yang paling tepat untuk berkomunikasi dan bekerjasama dengannya. Misalnya, adakan rapat seminggu sekali dengan mereka. Ingat, Anda harus disiplin mengadakan rapat. Dengan demikian, mereka juga menanggapinya dengan serius.

7. Goal
Memiliki tujuan yang ingin dicapai sangatlah penting. Buat tujuan yang ingin Anda capai, lalu kemukakan pada atasan. Evaluasi secara berkala, sejauh mana pencapaian Anda. Buat tujuan-tujuan baru dalam jangka waktu tertentu, misalnya setiap enam bulan sekali.

8. Sukarela
Tak ada salahnya menawarkan diri ikut terlibat dalam proyek baru di luar tugas utama Anda. Ini bisa menambah nilai kerja Anda. Namun, lakukan ini hanya bila Anda mampu menyelesaikan tugas utama tepat waktu dan mengerjakan tugas tambahan ini dengan baik. Kalau tidak, pekerjaan tambahan justru jadi bumerang buat Anda.

9. Teliti
Taati aturan menggunakan internet dan komputer yang berlaku di kantor baru Anda. Bila Anda memiliki blog, hati-hati memilih kata saat curhat tentang kantor baru Anda di blog. Anda tak ingin dipecat gara-gara masalah ini, bukan? Mengirim email juga perlu etika. Jangan memberi judul dengan kata-kata yang tidak etis ketika mengirim email berisi laporan yang tidak Anda sukai. Periksa kembali email yang akan dikirim ke klien, untuk menghindari kesalahan.

10. Jangan Meremehkan Rekan Kerja atau Bawahan Anda
Belum tentu mereka serendah yang Anda duga. Membandingkan mereka dengan rekan-rekan kerja di kantor lama dapat menimbulkan sikap subyektif yang tak diperlukan.

11. Up Date
Meski berprestasi karena mengerjakan tugas-tugas di kantor dengan baik, terus perbarui pengetahuan dan wawasan tentang pekerjaan Anda. Berlangganan majalah, ikut milis, seminar dan membaca buku-buku yang berhubungan dengan pekerjaan Anda akan sangat membantu.

Sumber : karir-up.com

Tips Karier

HOW TO MAKE CAREER CHOICE

May 28th, 2008

You’ve assessed your current strengths and goals, and you’ve researched several careers that seem to be a good fit. How do you decide which career to pursue? The career you choose will affect your life path more than almost any other decision you’ll make in your life. How do you make the right choice?

Look at the Situation From a Relaxed and Open Perspective

 

Step one

Remember it doesn’t have to be forever. Keep in mind that, on average, people change career fields three or four times in their lives, and at least one of those times is after age 50.

 

Step Two

Keep in mind that your goals and priorities may change.

Step Three

As you go through the career exploration process, keep an open mind to many possibilities, even some you may not have previously considered.

 

Organize Your Information

 

Step one

List your priorities. What are the work-related factors that are most important to you? For example, do you need to be creative in your work? Do you prefer a structured environment? For each career, write down the factors that match your priorities.

 

Step Two

Make a list of likes and dislikes for each career choice.

 

 

Step Three

Assign a numerical value from 1 to 5 based on level of importance to each like and dislike. For example, say you’re considering public relations as one career choice. one disadvantage of this occupation may be that irregular hours are typical. If you’re not thrilled with this kind of schedule, but it’s not too big a deal to you, you might give this factor a 1 or a 2 value.

 

Step Four

Calculate a score for each career choice by subtracting the cons from the pros.

 

Step Five

Choose your next career venture based on the occupation with the highest score.

 

Overall Tips & Warnings

 

1.            Find out what tasks you will have to do in an occupation and which things will take most of your time.

2.            Choose because you like to do the work, not solely because of the salary or prestige

3.            Choose a field where there is likely to be a demand for workers when you are ready to be hired

4.            Choose an occupation that uses yourtalent/abilities; avoid those that require abilities you don’t have

5.            Do not confuse interest with talent/ability (interest often change, talents/abilities improve with use)

6.            Do not choose an occupation because you admire someone else who is in it.

7.            Always build on your background of successful experience

8.            Consider your instincts as well as concrete information in your decision-making. Does your choice feel right to you? Does it reflect who you are? Remember it’s okay to change your mind.

9.            Read “Do What You Are,” Paul D. Tieger & Barbara Barron-Tieger for additional insight on choosing a career.

10.       Don’t resist moving in new directions because of fear or because of past goals that may not apply anymore.

 

(Taken from PMBS)

Tips Karier

Meraih Pekerjaan Impian

May 22nd, 2008

Berikut adalah 6 tips sebagai langkah awal untuk meraih pekerjaan impian, yang disimpulkan berdasarkan jawaban mereka:

1. Kenali diri Anda

Sudahkah Anda mengetahui apa sebenarnya yang Anda cari? Tuliskan di atas kertas segala hal tentang Anda, misalnya pekerjaan apa yang Anda impikan, apa yang Anda sukai, dan mungkinkah Anda akan tetap mengerjakan tugas dengan baik jika gajinya tak sesuai harapan. Langkah kedua adalah melakukan pendataan bidang industri dan pekerjaan apa yang kira-kira sesuai dengan keinginan Anda tersebut. Carilah informasi mengenai requirment yang mereka butuhkan. Lalu mulailah mengikuti training atau kursus untuk memperkaya keterampilan Anda.

2. Jual skill Anda

Dalam membuat resume pekerjaan, tuliskan semua skill dan bakat yang Anda miliki, meski tidak ada kaitannya dengan posisi yang akan dilamar. Misalnya saja kemampuan menghadapi klien, keterampilan dalam bidang teknologi informasi, sales, ataupun projek manajement. Semakin banyak skill yang Anda kuasai, makin luas pula posisi yang bisa Anda tuju.

3. Sambil menyelam minum air

Misalnya saja saat ini Anda bekerja di bagian akunting padahal pekerjaan impian Anda adalah menjadi tim marketing. Jangan menyerah. Sambil menunggu kesempatan datang, bekali diri Anda dengan kemampuan marketing, antara lain dengan banyak membaca buku ahli marketing, mengikuti seminar, atau mengikuti milis profesi. Buka telinga baik-baik untuk mengetahui adanya lowongan di bidang yang Anda incar.

4. Terus maju

Setiap kemajuan, sekecil apa pun adalah hal yang patut dibanggakan. Berusahalah untuk membuat diri Anda semakin dekat pada tujuan. Mulailah dari hal-hal kecil, seperti mengikuti milis profesi atau hadir di pertemuan-pertemuan, jangan ragu untuk memberikan nomor ponsel Anda. Meski sederhana, tindakan tersebut akan memperluas jaringan kerja Anda.

5. Lebih cepat lebih baik

Penentuan tujuan dan usaha untuk mencapainya akan lebih mudah dilakukan jika Anda belum dibatasi oleh tanggung jawab finansial. Misalnya saja seorang lajang yang baru mulai bekerja akan lebih mudah mencoba berbagai tantangan karir dibandingkan dengan ibu bekerja. Jadi, mulailah dari sekarang, terutama jika posisi Anda masih ‘bebas’.

6. Realistis

Walaupun Anda beruntung telah meraih pekerjaan impian, tetap tak ada satu pun pekerjaan yang sempurna. Setiap pekerjaan memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang kita sukai atau tidak. Lakukan ide-ide kreatif untuk memicu semangat dan mencegah kebosanan, misalnya saja dengan memberi hadiah bagi diri sendiri setiap kali Anda mencapai target.

Sumber : karir-up.com

Tips Karier

Melamar Kerja via Email

May 21st, 2008

Banyak orang mungkin masih merasa lebih ’sreg’ mengirimkan aplikasi lamaran pekerjaan melalui pos ketimbang email. Namun, di era yang sangat dinamis dan serba cepat ini, pihak perusahaan yang membuka lowongan pekerjaan tak jarang justru meminta kandidat untuk mengirimkan resume-nya via email. Nah, jika memang demikian halnya, maka mau tak mau kita harus mengikutinya. Mengirimkan aplikasi melalui email memang sedikit berbeda dengan jika mengirimkannya lewat jasa pos. Ada hal-hal tertentu yang harus diperhatikan oleh kandidat, sebagai berikut:Gunakanlah alamat email yang mudah singkat dan mudah diingat dan “resmi”. Artinya, gunakanlah nama yang meyakinkan, jangan nickname yang aneh-aneh, misalnya justordinarygirl@…, negromanis@…, youngandcoolguyz@…Pakai saja nama Anda sendiri.Kalau Anda tidak punya email official, usahakan jangan menggunakan email dari provider gratisan lokal yang umumnya lambat. Gunakan saja yahoo.com atau gmail.com yang lebih dikenal dan jelas bonafid.

Kirimkan berkas-berkas file dalam format .doc atau .rtf. Pastikan isinya lengkap, dari data diri hingga curriculum vitae, dan termasuk foto. Beri nama file tersebut dengan nama Anda.Untuk file berupa foto, atau mungkin Anda merasa perlu juga melampirkan salinan contoh hasil karya dan sertifikat, pastikan ukurannya wajar, agar mudah dibuka.

Jika terpaksa mengirimkan gambar dalam jumlah banyak, satukan dalam format .zip dan berilah nama yang jelas.

Selain berkas-berkas yang sudah lengkap, jangan lupa beri surat pengantar yang berisi uraian singkat, mengapa Anda ingin bekerja di perusahaan tersebut. Ungkapkan seperlunya, jangan berlebihan dan tidak perlu memasukkan informasi-informasi yang tidak relevan.

Sumber : Portal HR.com

Tips Karier

Berapa Gaji yang “Harus” Saya Minta?

May 21st, 2008

Bagian yang paling merepotkan dalam proses wawancara kerja adalah menjawab pertanyaan mengenai gaji yang diminta. Banyak orang merasa “serba salah”, menyebut angka yang terlalu rendah takut dianggap kualitas juga rendah, menyebut angka terlalu tinggi, khawatir perusahaan tidak mampu membayar sehingga menyebabkan yang bersangkutan tidak jadi diterima.
Saran yang sering terdengar, sebutlah angka yang standar. Ini juga tak kalah ribetnya: yang standar itu seberapa? Belum lagi kesan yang muncul bahwa orang yang menjawab sesuai standar berarti tidak memahami keunggulan dirinya.

Bukan Tabu

Saat ini, negosiasi mengenai gaji tidak lagi dipandang tabu oleh sebagian besar perusahaan, namun Anda diharapkan mengumpulkan informasi dulu agar dapat bernegosiasi dengan baik. Lakukan survei terlebih dahulu, sampai sejauh yang bisa Anda lakukan.

Survei

Cek ke teman atau teman dari teman yang mempunyai pekerjaan sejenis di perusahaan yang sejenis. Apabila Anda tidak bisa memperoleh data yang diinginkan, carilah informasi mengenai gaji dari pekerjaan lain yang satu level dalam tingkatan korporasinya, tapi di perusahaan sejenis, atau pekerjaan sejenis di perusahaan yang berbeda jenis atau skala.

Tiga Faktor

Perlu diingat, pekerjaan sejenis di perusahaan sejenis juga belum tentu mewakili nilai (gaji) yang sama. Gaji ditentukan oleh 3 faktor: harga pekerjaannya, harga orang yang memegang jabatan atau pekerjaan tersebut, dan harga pasar. Cari tahu juga, apakah gaji tersebut merupakan harga pekerjaannya sendiri atau harga pemegang jabatannya.

Tentukan BATNA Anda

Apa itu? Best Alternative to a Negotiated Agreement. Caranya:

Pertama, cek diri sendiri, apakah Anda pindah karena gaji, karir, ketenangan kerja, stabilitas atau hal lain. Kalau Anda pindah bukan karena alasan gaji, maka gaji tidak perlu terlalu difokuskan dalam negosiasi, yang berarti permintaan bisa berkisar dari 0-10% dari gaji sekarang. Seandainya gaji menjadi faktor penting buat Anda dan menjadi motif Anda pindah kerja, maka Anda perlu kombinasi antara peningkatan 10%-25% dari gaji sekarang dengan hasil survei Anda. Seandainya hasil survei Anda menemukan bahwa standar di luar sana jauh lebih besar, katakanlah 50% dari gaji Anda, bukan berarti Anda bisa langsung mengajukan angka. Dan, hasil survei yang lebih bisa dipakai adalah harga pekerjaan, bukan harga pemegang jabatannya.
Persepsi Perusahaan

Kedua, ingat selalu: persepsi perusahaan mengenai tingkat kemampuan Anda antara lain ditentukan oleh seberapa tinggi gaji Anda sekarang. Jadi, mereka bisa saja melihat Anda sebagai seseorang yang sedang mencari “peruntungan” dengan meminta gaji lebih tinggi. Efektifnya adalah “win-win”: Anda bisa menentukan nilai tengah dari jangkauan 10%-50% (sekitar 30%-35%). Dan, inilah cara Anda menentukan BATNA: tentukan harga yang hendak Anda minta, tentukan bottom-line Anda apabila terjadi negosiasi, dan stick to it. Artinya, Anda bisa dengan percaya diri meminta, dan berani walk away apabila tidak sesuai dengan permitaan Anda.

Tips Lanjutan (1)

Jadi, “Berapa gaji yang Anda minta?” Rahasianya bukan pada angkanya, tapi kalimat yang membungkus permintaan Anda tersebut. Misalnya, “Saya akan sangat senang apabila memperoleh gaji Rp…, tapi Bapak/Ibu tentu sudah melihat CV saya dan mempunyai gambaran sendiri mengenai nilai yang bisa saya kontribusikan ke perusahaan ini, dan tentunya Bapak/Ibu yang tahu bagaimana kemampuan dan harapan saya bisa cocok dengan standar perusahaan ini, jadi saya akan sangat senang apabila bisa mendengar juga dari Bapak/Ibu, kira-kira berapa yang ditawarkan kepada saya.”

Tips Lanjutan (2)

Apabila pertanyaan tentang gaji ini muncul terlalu awal, ada baiknya Anda tidak langsung menjawab. Kalau ini terjadi, Anda justru mempunyai kesempatan lebih banyak untuk menunjukkan citra profesional Anda! Katakanlah, misalnya, “Apabila Bapak/Ibu tidak berkeberatan, saya ingin tahu lebih jauh dulu tentang peran dan tanggung jawab pekerjaan saya sebelum menjawab pertanyaan ini. Saya belum mendapat atau merasakan gambaran utuhnya.”

Kesimpulan

Jadi: lakukan survei, tentukan BATNA, bungkus permintaan Anda dengan citra yang baik, dan ungkapkan pada saat yang tepat!

Sumber : Portal HR.com

Tips Karier